Tuesday, October 8, 2013

Indah Dan Damai di Pulau Sempu

Pulau Sempu jadi destinasi surgawi yang memukau di selatan Malang. Ada laguna indah, dunia bawah laut cantik, lokasi kemping hingga monyet-monyet liar jadi daya tarik wisatawan untuk datang ke sana.
Pulau kecil bernama Sempu terletak di Kabupaten Malang, tepatnya selatan Pantai Sendang Biru. Kurang lebih perjalannya dari Kota Malang butuh waktu 2 jam. Pulau kecil nan Indah ini sangat menarik karena masih asri dan menawan.Saat ini Pulau Sempu dijadikan kawasan cagar alam. Jadi hanya terdapat flora dan fauna dan kita bisa bermalam di sini asalkan membawa tenda dan sudah membawa surat izin pastinya.

Tapi selama perjalanan, lelah dan semuanya akan hilang jika kita sudah berada di pulau kecil yang bernama Sempu. Danau Segara Anakan juga sangat indah dan damai jika kita berada di sana. Kami pun tak sabar untuk segera mendirikan tenda dan menyiapkan peralatan snorkeling kami.

Anda bisa menikmati dunia bawah air dan bermain bersama para penghuni pulau sempu yang berada di air. Karena selain ikan, di sana juga banyak monyet-monyet liar yang sudah terbiasa dengan manusia.

Salah satu penduduk di pulau sempu yang mungkin akan meramaikan saat kita berada di sana, lucu dan harus tetap berhati - hati karna mungkin ada bawaan kita yang bisa di ambil oleh kawanan si monyet ini
Di balik tebing Pulau Sempu kita bisa melihat langsung keindahan Samudera Hindia. Sangat menarik! Di pulau kecil ini tidak terdapat air payau jadi jika mau tinggal untuk beberapa hari di sini harus membawa cukup air minum.



Wednesday, June 19, 2013

Keindahan mu, Ranu Kumbolo

Bulan lalu saya bersama teman-teman kantor memutuskan untuk berpetualang di Gunung Semeru, yang tidak jauh dari kota Malang. 09 Mei 2013 Perjalanan kami di mulai dari kota malang kami menuju Tumpang tempat di mana kami bertemu dengan pemilik hartop,  kendaraan berikutnya yang akan membawa kami ke Ranu Pani.
Sebelum kami melakukan pendakian, kami harus registrasi di Ranu Pani, walaupun kami sudah daftar online tapi ternyata tidak membuat kami bisa cepat melakukan perjalanan, setelah semua persaratan registrasi kami selesai baru kami di ijinkan untuk memulai pendakian kami. Sekitar jam 12:00PM kami berangkat dari Ranu Pani 12 Orang personil kami saat itu, kami berencana 3hari 2Malam berada di sana dan dalam perjalanan kami bertemu dengan para pendaki lainnya yang waktu itu memang ramai karena baru di buka setelah beberapa bulan di tutup. Saat itu pun pendakian hanya di perbolehkan sampai Pondok Kalimati, untuk ke Arcopodo dan Puncak Mahameru belum di perbolehkan.

Kurang lebih 10km perjalanan kami untuk sampai Ranu Kumbolo 12 Orang personil kami mulai tercecer sejak dari POS I,dan saya berada di rombongan paling belakang yang sebelumnya saya hanya berdua bersama teman saya Mas Imam Subeki,kita berdau berjalan pelan tapi pasti (seperti kura-kura) saat saya istirahat ternyata di jalan saya bertemu teman lama yang memang sudah lama tidak bertemu, Ilham Afif (Kabel) namanya dia pecinta LOMOGRAFI yang ternyata dalam pendakian dia juga membawa kamera lomonya saat itu hehehe... (Halooo... Kabel :D) sempat ngobrol sebentar dan dia melanjutkan perjalanan karena keburu tertinggal oleh rombongannya dan kami berdua (saya dan Mas Beki) masih istirahat dan berjalan lagi, istirahat lagi, berjalan lagi, istirahat lagi dan berfoto karena senang sudah melihat danau (Ranu Kumbolo) fisik kami yang sudah mulai kelelahan saat itu dan matahari mulai tengelam, saya bertemu dengan rombongan saya yang masih di belakang saya saat itu, Mas Farikh, Mas Doni, Mas Imron & Mas Rahmad. Dan akhirnya saya bergabung dengan mereka tanpa mas Beki karena dia berjalan sendiri selain takut gelap dalam perjalanan mungkin mumpung saya bersama teman-teman yg di belakang hehehehe...
Dan akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo dalam keadaan sudah gelap tapi saat itu tenda kami sudah siap karena berkat jasa 2 poter/pemandu sekaligus teman kami di sana, saat itu yang mencarikan tempat dan membawakan tenda kami. Terimakasih buat Mas Hartono & Mas Wis (Poter kami saat itu)

Malam pertama di Ranu Kumbolo Kamis, tidak mandi hanya cari tempat pipis dan bergegas cari makanan hehehe.. (maaf Tuhan saya tidak sholat sama sekali di sana) karena banyak faktor saya tidak bisa beribadah. Malam mulai gelap dan dingin tapi semakin ramai para pendaki terus berdatangan sampai jam 11 malam terus saja bertambah tenda – tenda di sekitar kami saat itu, sampai istirahat kami sering terganggu. Pendaki dari Jakarta, Palembang, Surabaya, Bandung, dan banyak lagi bermalam di Ranu Kumbolo sebelum esok hari melanjutkan pendakian ke Kalimati dan mungkin sampai Puncak Mahameru. Entah jam berapa saya istirahat karena sudah lelah walapun dingin dan sering terbangun dan..... Tara perutku pun mulai bergejolak berontak ingin segera pup, saat itu saya 1 tenda dengan Mas farikh dan Mas farik yang dekat dengan saya, saya pun menganggu istirahatnya (maaf ya mas farikh) akhirnya Mas farikh pun mau mengantarkan saya mencari tempat untuk pup berbekal lampu senter dan tisue basah kami mencari tempat yang nyaman dan aman untuk menanam ranjau karena tidak adanya tempat untuk buang air besar kami pun harus pintar-pintar mengatur pola rutin buang air besar.
Please don't use any of my pictures without my written permission

Pagi hari pertama Jumat, berkabut dan dingin dan saya orang terakhir yang bangun saat itu, teman-teman sudah bangun dan mengabadikan momoen pagi itu yang berkabut cukup tebal kebetulan sebagian besar dari kami pecinta foto yang di persenjatai kameranya sendiri – sendiri mungkin saya absen dulu ya..
1.      Pak Heru
2.      Pak Arif
3.      Mas Imron
4.      Mas Doni
5.      Mas Bambang
6.      Mas Farikh
7.      Mas Surya dan Mas fendito
8.      Mas Imam Subeki
9.      Mas Rahmad
10.     Fajar


Please don't use any of my pictures without my written permission

Setelah kami sarapan beberapa teman kami dan 1 poter kami bersiap untuk melanjutkan pendakian ke Mahameru, dan yang lain hanya mengantar sampai Cemoro Kandang 4,7Km lagi dari Cemoro Kandang ke Puncak Mahameru. Tenda-tenda pun mulai banyak yang di bereskan bersiap meningalkan Ranu Kumbolo, pemanasan pun di mulai dengan melewati tanjakan cinta dengan berbagi mitosnya tapi saya tidak bahas mitosnya karena saya tidak begitu jelas juga dengan mitos itu.
Please don't use any of my pictures without my written permission

Dalam perjalanan kamera kami hampir tidak pernah masuk tas lagi, jeprat jepret sana sini walapun nafas tersengal-sengal karena tanjakan cinta hehehe..... setelah kami sampai dari Cemoro Kandang kami kembali ke tenda kami di Ranu Kumbolo, sore saya dan Mas Farikh jalan sendiri coba explor Ranu Kumbolo dan sekitarnya saat kembali berkumpul di Ranu Kumbolo Mas Beki mencari kayu untuk membuat api ungun malam harinya.
Malam kedua Jumat, teman-teman asik dengan aktifitasnya sendiri-sendiri ada yang tetap di tenda dan ada yang cari tempat yang nyaman untuk foto, mencari dan berusaha mendapatkan foto yang Waoooo... dan saya mulai bingung untuk bercerita jadi mungkin ini beberapa hasil jepretan saya..yang tidak bagus tapi mungkin bisa mengngambarkan bagai mana keadaan di Ranu Kumbolo saat itu.
Terimakasih, jaga ke Indahan dan jangan di rusak Indonesia ku ini jika tidak ingin indonesia hanya jadi cerita ke Indahannya, buat Negri ini kaya akan segalanya untuk generasi penerus Mu.

Please don't use any of my pictures without my written permission

Please don't use any of my pictures without my written permission

Please don't use any of my pictures without my written permission

Please don't use any of my pictures without my written permission

Please don't use any of my pictures without my written permission

Please don't use any of my pictures without my written permission

Please don't use any of my pictures without my written permission


Wednesday, May 29, 2013

Etika dan Hak Cipta Dalam Fotografi

Jangan hanya asal jepret-jepret (ngambil foto) dan memakai foto karya orang lain untuk di komersilkan, up load tampa seijin sang empunya !!!
saya memang awam tentang fotografi dan selalu bertanya-tanya ke sana ke sini setiap ada masalah, dan karena saya merasakan bagai mana rasanya melihat karya kita tiba-tiba sudah menjadi sampul sebuah buku dll, tampa kita ketahui.
Dari teman sekaligus fotografer yg menginspirasi saya, saya selalu bertanya dan selalu membuka pikiran saya lebih jauh termasuk tentang ETIKA Fotografi dan HAK CIPTA Fotografi, Mbak Dewi Capriantita Puspitarini, terimakasih banyak dan semoga semakin sukses dalam keluarga dan karier, Amin

Original Foto adalah HAK Fotografer, lindungi agar tidak sampai di salah gunakan, di curi, di upload tampa seijin pemiliknya (Fotografer).
Buat saya karya seperti ide, untuk memperoleh ide cemerlang tidak lah mudah begitu juga dengan karya-karya kalian jangan biarkan di klam oleh orang lain atau berwatermark orang lain. cukup membuat sakit hati dan malas untuk berkarya jika terus-terusan terjadi, tidak peduli kita ini penghobi foto atau fotografer profesional semua ini bisa terjadi pada sapa saja.
Undang-Undang Hak Cipta No 19 tahun 2002
Bagian keempat UU Hak Cipta, pasal 12 ayat 1 huruf J dan K. Disebut: Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra.

Dan jangan asal moto, tidak semua orang mau untuk di ambil gambarnya apa lagi di up load, ijin lah dan sopan jika akan memoto manusia, hargai manusia jika kalian mau di hargai juga dan jika kalian manusia juga sih
ini ada beberapa link dari teman, dan sangat bagus karena membuka pikiran kita agar tidak terjadi pada kita. dodiheru.wordpress.com di sini Om doni sepertinya benar-benar emosi karena ulah para fotografer amatiran yg menganggu ibadah.

Monday, March 25, 2013

Kawah Ijen

Kawah Ijen, berada di Gunung Ijen Gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Bondowoso Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.
Saya dan teman – teman kantor kususnya para pecinta Photografi dan petualang. Pak Arif Biantoro, Kurniawan (Hornyawan), Davi, Bli Gede Arya Wirama, Mas Pras, Mas Feri Fahrur Rohman, Mas Farikh Ardiansyah, Mas Imron Fauzi Dan istri (Mbak Rina), Bang Jerry Rudolf Sirait. Kami berangkat dari Arabica homestay jam 12.00am tingtong karena kami sudah janji dengan Pak Rudi (Penambang sekaligus jadi pemandu kami saat itu).
Jam 01.00am 17 Maret 2013 kami memulai pendakian, 3km jalur yang harus kami tempuh dan tidak hanya itu, jalurnya selain menanjak antara 25o s/d 35o struktur tanahnya berpasir sehinga menyulitkan kami dalam pendakian semakin berat dan sulit menahan berat badan dan bawaan agar tidak terpleset. Semakin tinggi selain kita juga sudah cukup kelelahan semakin menipis kandungan oksigen dan beberapa teman kami akhirnya kelelahan sampai pucat mukanya perjalanan kami pun molor dari yang di targetkan karena kami memburu Blue Fire jika matahari sudah terbit Blue Flame tidak bagus lagi.
Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.
Dengan penuh semangat kami menyelesaikan jalur dan segala rintangannya karena di perjalanan kami sering bertemu/ berpapasan dengan para penambang yang umur nya jauh lebih tua dari kami dengan langkahnya yang pasti dan gelapnya malam mereka berangkat mencari belerang(sulfur) dan ada yang sudah turun dengan membawa belerang (sulfur). Sungguh hebat perjuangan para penambang belerang ini. Dengan berat bawan kurang lebih 80kg setiap orang dan hanya di hargai 700rupiah per/Kg nya mereka bisa balik sehari 2Kali s/d 3Kali. Terpacu semangat saya dan tidak boleh menyerah karena saya hanya membawa tas yang berisi kamera saja dan air mineral jauh lebih ringan di bandingkan para penambang di Gunung ijen itu.
Akhirnya kami sampai setelah beberapa kali kami istirahat karena banyak yang kelelahan tapi ternyata untuk melihat Blue Fire kami harus turun tidak  hanya dari bibir kawah, kurang lebuh 200 meter dari bibir kawah untuk menuju kawah dengan jalan bebatuan dan turunan, sangat terjal dan sempit kami terus berjalan antara batuan besar seperti menjadi tempok di samping kami dan jurang lampu senter yang dari awal telah menyalah menemani perjalanan kami semakin berguna di saat kami mulai menuruni bibir kawah untuk melihat Blue Fire. Semakin miris kami melihat para penambang dengan jalur yang seberat itu mereka melewatinya dan membawa beban yang cukup berat. Tak hanya medan yang berat asap belerang pun beberapa pali menghampiri kita menandakan kita telah hampir sampai di dasar. Sesuai angin asap itu bergerak dan membuat kami tidak bisa nafas dan melihat.
Mata pedih dan putih pekat membuat kami berhenti tidak bisa bergerak jika salah langkah kami bisa terpleset dan jatuh dan menahan nafas sebisa mungkin karena sangat – sangat sesak di dada asap belerang yang tebal menembus masker yang kita pakai. Pelan dan terus merayap langkah kami lanjutkan dan tara… akhirnya kami telah di dasar dan sangat senang rasanya bisa mencapai tujuan sampai akhirnya karena saya kurang hati – hari dan terlalu bersemangat, saya terpleset tapi tidak apa hanya sakit di tangan kanan saya yang pernah cidera. Saya coba abaikan rasa sakit dan segera mungkin cari tempat untuk mengambil gambar blue fire yang terhalang asap tebal tapi sayang saya tidak mendapatkan itu hanya Mas Imron dan Bli Gede dan Mas Farikh yang sepertinya mendapat tempat yang bagus untuk melihat dan mengabadikan momen yang hanya bagus jika matahari belum terbit.
Keputusasaan saya memuncak untuk mengabadikan blue fire karena dingin dan harus berlari – lari, setiap angin berubah mengarahkan asap tebal belerang, karena tangan saya yang sakit , karena banyak cahaya senter dari beberapa pengunjung mengngarah ke objek, sangat menyebalkan karena saya memakai settingan 30”, F6, ISO 400 dan manual focus (bayangin saja gmn ribetnya) eh malah banyak yang mengganggu hemmmmm gemes aku jadinya @$#!%$#*&{]
Dan saya berpaling melihat apa di sekitas saya yang bisa saya abadikan saat itu ting… timbul ide untuk ambil HI dan danau yang mulai tampak pantulan dari dinding tebing bebatuannya, hingga matahari pun mulai terbit, yang memoto  blue fire pun beralih mencari objek di sekitar, hingga ada aktifitas di dalam danau yang membuat letusan dalam air yang sebagian bisa kami abadikan karena Gas Beracun akan keluar jika telah terjadi kejadian(aktifitas danau di kawah ijen) seperti itu katanya para penambang di sana.
Don't use my Pictures without a written permission.
Kami semakin panik karena para penambang yang sibuk mencari belerang ikut berlarian karena sebelumnya ada beberapa orang dari atas tebing berteriak (woiii tamu naik..tamu naik semua) dan memang sebenarnya dari pihak perhutanan tidak memperpolehkan kegiatan pendakian saat itu tapi kegiatan penambangan tetap ada yang membaut kami tetap berangkat mendaki Gunung Ijen
Buat Teman kami yang saat itu tidak bisa berangkat karena sibuk kami tunggu kebersamaannya di lain petualangan kita ya.
Mas Dwi Suryono (tapi kameranya ikut serta dalam petualangan ijen kami)
Mas Bambang (lensa, filter dan segala kelengkapan cameranya ikut serta juga)
Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.


Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.
Don't use my Pictures without a written permission.
Don't use my Pictures without a written permission.


Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Friday, January 25, 2013

Light Painting




Model : Afif Udin (sedunia), Light : Alan Laksono


Kala kebosanan melanda dan untuk mengisi waktu (dari pada benggong), saya mencoba - coba dan belajar untuk membuat foto Light Painting. kebetulan lagi ada anak yg mau untuk saya jadikan objek foto.
Dan alat-alat pendukung mulai saya siapkan, seperti Camera, Sumber Cahaya untuk Painting dan tripod dan 1 Buah manusia buat pencet Shutter/Gambar Cahayanya hehehe
dan tara..ra... itu lah hasil nya, masih banyak noise, kurang terkonsep dan ambrul adul hohohoho