Kawah Ijen, berada di
Gunung Ijen Gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Bondowoso
Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.
Saya dan teman –
teman kantor kususnya para pecinta Photografi dan petualang. Pak Arif Biantoro,
Kurniawan (Hornyawan), Davi, Bli Gede Arya Wirama, Mas Pras, Mas Feri Fahrur
Rohman, Mas Farikh Ardiansyah, Mas Imron Fauzi Dan istri (Mbak Rina), Bang
Jerry Rudolf Sirait. Kami berangkat dari Arabica homestay jam 12.00am tingtong
karena kami sudah janji dengan Pak Rudi (Penambang sekaligus jadi pemandu kami
saat itu).
Jam 01.00am 17 Maret 2013 kami memulai pendakian, 3km jalur yang harus kami
tempuh dan tidak hanya itu, jalurnya selain menanjak antara 25o s/d
35o struktur tanahnya berpasir sehinga menyulitkan kami dalam
pendakian semakin berat dan sulit menahan berat badan dan bawaan agar tidak
terpleset. Semakin tinggi selain kita juga sudah cukup kelelahan semakin
menipis kandungan oksigen dan beberapa teman kami akhirnya kelelahan sampai
pucat mukanya perjalanan kami pun molor dari yang di targetkan karena kami
memburu Blue Fire jika matahari sudah terbit Blue Flame tidak
bagus lagi.
 |
| Don't use my Pictures without a written permission. |
 |
| Don't use my Pictures without a written permission. |
Dengan penuh
semangat kami menyelesaikan jalur dan segala rintangannya karena di perjalanan
kami sering bertemu/ berpapasan dengan para penambang yang umur nya jauh lebih
tua dari kami dengan langkahnya yang pasti dan gelapnya malam mereka berangkat
mencari belerang(sulfur) dan ada yang sudah turun dengan
membawa belerang (sulfur). Sungguh hebat perjuangan para penambang belerang
ini. Dengan berat bawan kurang lebih 80kg setiap orang dan hanya di hargai
700rupiah per/Kg nya mereka bisa balik sehari 2Kali s/d 3Kali. Terpacu semangat
saya dan tidak boleh menyerah karena saya hanya membawa tas yang berisi kamera
saja dan air mineral jauh lebih ringan di bandingkan para penambang di Gunung ijen
itu.
Akhirnya
kami sampai setelah beberapa kali kami istirahat karena banyak yang kelelahan
tapi ternyata untuk melihat Blue Fire kami harus turun tidak hanya dari bibir kawah, kurang lebuh 200
meter dari bibir kawah untuk menuju kawah dengan jalan bebatuan dan turunan,
sangat terjal dan sempit kami terus berjalan antara batuan besar seperti
menjadi tempok di samping kami dan jurang lampu senter yang dari awal telah
menyalah menemani perjalanan kami semakin berguna di saat kami mulai menuruni
bibir kawah untuk melihat Blue Fire. Semakin miris kami melihat para penambang
dengan jalur yang seberat itu mereka melewatinya dan membawa beban yang cukup
berat. Tak hanya medan yang berat asap belerang pun beberapa pali menghampiri
kita menandakan kita telah hampir sampai di dasar. Sesuai angin asap itu
bergerak dan membuat kami tidak bisa nafas dan melihat.
Mata
pedih dan putih pekat membuat kami berhenti tidak bisa bergerak jika salah
langkah kami bisa terpleset dan jatuh dan menahan nafas sebisa mungkin karena
sangat – sangat sesak di dada asap belerang yang tebal menembus masker yang
kita pakai. Pelan dan terus merayap langkah kami lanjutkan dan tara… akhirnya
kami telah di dasar dan sangat senang rasanya bisa mencapai tujuan sampai
akhirnya karena saya kurang hati – hari dan terlalu bersemangat, saya terpleset
tapi tidak apa hanya sakit di tangan kanan saya yang pernah cidera. Saya coba
abaikan rasa sakit dan segera mungkin cari tempat untuk mengambil gambar blue
fire yang terhalang asap tebal tapi sayang saya tidak mendapatkan itu hanya Mas
Imron dan Bli Gede dan Mas Farikh yang sepertinya mendapat tempat yang bagus
untuk melihat dan mengabadikan momen yang hanya bagus jika matahari belum
terbit.
Keputusasaan
saya memuncak untuk mengabadikan blue fire karena dingin dan harus berlari –
lari, setiap angin berubah mengarahkan asap tebal belerang, karena tangan saya
yang sakit , karena banyak cahaya senter dari beberapa pengunjung mengngarah ke
objek, sangat menyebalkan karena saya memakai settingan 30”, F6, ISO 400 dan
manual focus (bayangin saja gmn ribetnya) eh malah banyak yang mengganggu
hemmmmm gemes aku jadinya @$#!%$#*&{]
Dan
saya berpaling melihat apa di sekitas saya yang bisa saya abadikan saat itu
ting… timbul ide untuk ambil HI dan danau yang mulai tampak pantulan dari
dinding tebing bebatuannya, hingga matahari pun mulai terbit, yang memoto blue fire pun beralih mencari objek di
sekitar, hingga ada aktifitas di dalam danau yang membuat letusan dalam air
yang sebagian bisa kami abadikan karena Gas Beracun akan keluar jika telah
terjadi kejadian(aktifitas danau di kawah ijen) seperti itu katanya para
penambang di sana.
 |
| Don't use my Pictures without a written permission. |
Kami
semakin panik karena para penambang yang sibuk mencari belerang ikut berlarian
karena sebelumnya ada beberapa orang dari atas tebing berteriak (woiii tamu
naik..tamu naik semua) dan memang sebenarnya dari pihak perhutanan tidak
memperpolehkan kegiatan pendakian saat itu tapi kegiatan penambangan tetap ada
yang membaut kami tetap berangkat mendaki Gunung Ijen
Buat
Teman kami yang saat itu tidak bisa berangkat karena sibuk kami tunggu
kebersamaannya di lain petualangan kita ya.
Mas Dwi Suryono
(tapi kameranya ikut serta dalam petualangan ijen kami)