Tahun
1999 kami (Rakyat INDONESIA) pertama kali, pasca orde baru. Bahwa Indonesia
benar – benar harus demokratis. Semua masarakat tidak ada yang menolak
demokrasi. masarakat mengharapkan banyak perubahan yang jauh lebih baik dari
pada masa orde baru. Masarakat menginginkan perubahan, kebebasan, kenyamanan,
keseajahteraan dll
Antusias masarakat terhadab demokrasi berbuah kekecewaan, bahkan tumbuhnya rasa putus asa, semakin tumbuh dan berkembang seiring dengan kebobrokan para pemimpin.
Pemilu
bisa menyebabkan konvlik antar masarakat hanya karena perbedaan, kurang
dewasanya masarakat atau belum waktunya Indonesia menjadi Negara demokrasi?!
Perekonomian yang kuat tapi rapuh dan tidak mencapai kapasitasnya. Pemerintah yang tidak jarang mengabaikan ekonomi rakyat dan maraknya birokrasi yang korup. Sangat sulit masarakat mengharapkan pemerataan perekonomian, pendidikan, infrastruktur dll. Sampai – sampai untuk hidub layak saja semakin susah. Dan ini contoh kasus para pemimpin kita / wakil rakyat di masa ini http://nasional.kompas.com/read/2012/01/16/13045852/Pakai.Apel.Malang.dan.Apel.Washington.supaya.Tidak.Vulgar
Kebebasan
dalam beragama semakin meprihatinkan, kebencian terhadap mereka yang berbeda
semakin meluas, Hak Asasi Manusia semakin sering di abaikan. Mereka para
minoritas yang ajarannya di cap sesat oleh kelompok – kelompok mayoritas dan
melakukan kekerasan. Rakyat yang mengharapkan ke amanan, kenyamanan dan
kebebasan sangat kecewa dengan para
pemimpin Negara ini karena tidak bisa lagi menjamin keamanan dan melindungi
rakyatnya
Elit politik dengan politik uangnya semakin berkuasa dan siap membantu merusak Negara ini dan menambah koleksi ke bobrokan para pemimpin, mewarnai sejarah Indonesia. Kebijakan menaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) sampai 2X (Dua Kali) sangat berdampak dan berpengaruh terhadap rakyat, angka kemiskinan bertambah. Dan mahalnya biaya pendidikan saakan akan sekolah hanya untuk mereka yang kaya. Pendidikan kusus anak orang kaya. Kuliah seakan akan semakin mengngarah ke sana, hanya anak orang kaya kampus itu, hanya mereka yang kaya yang bisa kuliah di kampus ternama.
Melambungnya angka pengangguran dan tidak sedikit mereka bertitel Sarjanah kesulitan mencari pekerjaan. Dengan kuliah dan mendapatkan gelar berharap bisa bersaing dan berguna untuk Negara ini tapi kebalikan lah yang terjadi saat ini.
Dewan
perwakilan rakyat tidak jauh beda dengan perampok di mata masarakat, mereka
yang mewakili suara rakyat sibuk tidur saat rapat, sibuk melihat video porno.
Tapi mereka rajin mengngumpulkan uang untuk memperkaya angotanya, dan
keluarganya
Sengat membosankan, tapi selamat menikmati
kebijakan – kebijakan yang aneh, siap kan diri anda untuk melihat sandiwara
para wakil rakyat kita dan pemerintah, jangan pernah kagum dengan kemewahan
wakil rakyat kita. Selamat menikmati Negara ini sebelum menjadi sejarah!!!!!!
No comments:
Post a Comment