Wednesday, May 29, 2013

Etika dan Hak Cipta Dalam Fotografi

Jangan hanya asal jepret-jepret (ngambil foto) dan memakai foto karya orang lain untuk di komersilkan, up load tampa seijin sang empunya !!!
saya memang awam tentang fotografi dan selalu bertanya-tanya ke sana ke sini setiap ada masalah, dan karena saya merasakan bagai mana rasanya melihat karya kita tiba-tiba sudah menjadi sampul sebuah buku dll, tampa kita ketahui.
Dari teman sekaligus fotografer yg menginspirasi saya, saya selalu bertanya dan selalu membuka pikiran saya lebih jauh termasuk tentang ETIKA Fotografi dan HAK CIPTA Fotografi, Mbak Dewi Capriantita Puspitarini, terimakasih banyak dan semoga semakin sukses dalam keluarga dan karier, Amin

Original Foto adalah HAK Fotografer, lindungi agar tidak sampai di salah gunakan, di curi, di upload tampa seijin pemiliknya (Fotografer).
Buat saya karya seperti ide, untuk memperoleh ide cemerlang tidak lah mudah begitu juga dengan karya-karya kalian jangan biarkan di klam oleh orang lain atau berwatermark orang lain. cukup membuat sakit hati dan malas untuk berkarya jika terus-terusan terjadi, tidak peduli kita ini penghobi foto atau fotografer profesional semua ini bisa terjadi pada sapa saja.
Undang-Undang Hak Cipta No 19 tahun 2002
Bagian keempat UU Hak Cipta, pasal 12 ayat 1 huruf J dan K. Disebut: Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra.

Dan jangan asal moto, tidak semua orang mau untuk di ambil gambarnya apa lagi di up load, ijin lah dan sopan jika akan memoto manusia, hargai manusia jika kalian mau di hargai juga dan jika kalian manusia juga sih
ini ada beberapa link dari teman, dan sangat bagus karena membuka pikiran kita agar tidak terjadi pada kita. dodiheru.wordpress.com di sini Om doni sepertinya benar-benar emosi karena ulah para fotografer amatiran yg menganggu ibadah.

Monday, March 25, 2013

Kawah Ijen

Kawah Ijen, berada di Gunung Ijen Gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Bondowoso Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.
Saya dan teman – teman kantor kususnya para pecinta Photografi dan petualang. Pak Arif Biantoro, Kurniawan (Hornyawan), Davi, Bli Gede Arya Wirama, Mas Pras, Mas Feri Fahrur Rohman, Mas Farikh Ardiansyah, Mas Imron Fauzi Dan istri (Mbak Rina), Bang Jerry Rudolf Sirait. Kami berangkat dari Arabica homestay jam 12.00am tingtong karena kami sudah janji dengan Pak Rudi (Penambang sekaligus jadi pemandu kami saat itu).
Jam 01.00am 17 Maret 2013 kami memulai pendakian, 3km jalur yang harus kami tempuh dan tidak hanya itu, jalurnya selain menanjak antara 25o s/d 35o struktur tanahnya berpasir sehinga menyulitkan kami dalam pendakian semakin berat dan sulit menahan berat badan dan bawaan agar tidak terpleset. Semakin tinggi selain kita juga sudah cukup kelelahan semakin menipis kandungan oksigen dan beberapa teman kami akhirnya kelelahan sampai pucat mukanya perjalanan kami pun molor dari yang di targetkan karena kami memburu Blue Fire jika matahari sudah terbit Blue Flame tidak bagus lagi.
Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.
Dengan penuh semangat kami menyelesaikan jalur dan segala rintangannya karena di perjalanan kami sering bertemu/ berpapasan dengan para penambang yang umur nya jauh lebih tua dari kami dengan langkahnya yang pasti dan gelapnya malam mereka berangkat mencari belerang(sulfur) dan ada yang sudah turun dengan membawa belerang (sulfur). Sungguh hebat perjuangan para penambang belerang ini. Dengan berat bawan kurang lebih 80kg setiap orang dan hanya di hargai 700rupiah per/Kg nya mereka bisa balik sehari 2Kali s/d 3Kali. Terpacu semangat saya dan tidak boleh menyerah karena saya hanya membawa tas yang berisi kamera saja dan air mineral jauh lebih ringan di bandingkan para penambang di Gunung ijen itu.
Akhirnya kami sampai setelah beberapa kali kami istirahat karena banyak yang kelelahan tapi ternyata untuk melihat Blue Fire kami harus turun tidak  hanya dari bibir kawah, kurang lebuh 200 meter dari bibir kawah untuk menuju kawah dengan jalan bebatuan dan turunan, sangat terjal dan sempit kami terus berjalan antara batuan besar seperti menjadi tempok di samping kami dan jurang lampu senter yang dari awal telah menyalah menemani perjalanan kami semakin berguna di saat kami mulai menuruni bibir kawah untuk melihat Blue Fire. Semakin miris kami melihat para penambang dengan jalur yang seberat itu mereka melewatinya dan membawa beban yang cukup berat. Tak hanya medan yang berat asap belerang pun beberapa pali menghampiri kita menandakan kita telah hampir sampai di dasar. Sesuai angin asap itu bergerak dan membuat kami tidak bisa nafas dan melihat.
Mata pedih dan putih pekat membuat kami berhenti tidak bisa bergerak jika salah langkah kami bisa terpleset dan jatuh dan menahan nafas sebisa mungkin karena sangat – sangat sesak di dada asap belerang yang tebal menembus masker yang kita pakai. Pelan dan terus merayap langkah kami lanjutkan dan tara… akhirnya kami telah di dasar dan sangat senang rasanya bisa mencapai tujuan sampai akhirnya karena saya kurang hati – hari dan terlalu bersemangat, saya terpleset tapi tidak apa hanya sakit di tangan kanan saya yang pernah cidera. Saya coba abaikan rasa sakit dan segera mungkin cari tempat untuk mengambil gambar blue fire yang terhalang asap tebal tapi sayang saya tidak mendapatkan itu hanya Mas Imron dan Bli Gede dan Mas Farikh yang sepertinya mendapat tempat yang bagus untuk melihat dan mengabadikan momen yang hanya bagus jika matahari belum terbit.
Keputusasaan saya memuncak untuk mengabadikan blue fire karena dingin dan harus berlari – lari, setiap angin berubah mengarahkan asap tebal belerang, karena tangan saya yang sakit , karena banyak cahaya senter dari beberapa pengunjung mengngarah ke objek, sangat menyebalkan karena saya memakai settingan 30”, F6, ISO 400 dan manual focus (bayangin saja gmn ribetnya) eh malah banyak yang mengganggu hemmmmm gemes aku jadinya @$#!%$#*&{]
Dan saya berpaling melihat apa di sekitas saya yang bisa saya abadikan saat itu ting… timbul ide untuk ambil HI dan danau yang mulai tampak pantulan dari dinding tebing bebatuannya, hingga matahari pun mulai terbit, yang memoto  blue fire pun beralih mencari objek di sekitar, hingga ada aktifitas di dalam danau yang membuat letusan dalam air yang sebagian bisa kami abadikan karena Gas Beracun akan keluar jika telah terjadi kejadian(aktifitas danau di kawah ijen) seperti itu katanya para penambang di sana.
Don't use my Pictures without a written permission.
Kami semakin panik karena para penambang yang sibuk mencari belerang ikut berlarian karena sebelumnya ada beberapa orang dari atas tebing berteriak (woiii tamu naik..tamu naik semua) dan memang sebenarnya dari pihak perhutanan tidak memperpolehkan kegiatan pendakian saat itu tapi kegiatan penambangan tetap ada yang membaut kami tetap berangkat mendaki Gunung Ijen
Buat Teman kami yang saat itu tidak bisa berangkat karena sibuk kami tunggu kebersamaannya di lain petualangan kita ya.
Mas Dwi Suryono (tapi kameranya ikut serta dalam petualangan ijen kami)
Mas Bambang (lensa, filter dan segala kelengkapan cameranya ikut serta juga)
Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.


Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.
Don't use my Pictures without a written permission.
Don't use my Pictures without a written permission.


Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Don't use my Pictures without a written permission.

Friday, January 25, 2013

Light Painting




Model : Afif Udin (sedunia), Light : Alan Laksono


Kala kebosanan melanda dan untuk mengisi waktu (dari pada benggong), saya mencoba - coba dan belajar untuk membuat foto Light Painting. kebetulan lagi ada anak yg mau untuk saya jadikan objek foto.
Dan alat-alat pendukung mulai saya siapkan, seperti Camera, Sumber Cahaya untuk Painting dan tripod dan 1 Buah manusia buat pencet Shutter/Gambar Cahayanya hehehe
dan tara..ra... itu lah hasil nya, masih banyak noise, kurang terkonsep dan ambrul adul hohohoho

Thursday, July 19, 2012

Bromo Magnificent

Akhirnya weekend di bulan Juli kami berangkat ke Bromo bersama teman-teman kantor dan istri-istrinya. tujuan saya hanting dan liburan sekalian walopun harus bolos kuliah di hari minggu :D hihihi maafin mahasiwa mu Bapak dan Ibu dosen tercinta :P
bersama dengan Pak supir (Pak Likun), Mas Imron & Istri tercintanya, Mas Yuri & Istri tercintanya juga + 2 sodara kembar dari istrinya :D hehehe... Mas Dwi, Mas Bambang, Mas Pras, Mas Farik dan saya sendiri hehehe

Pagi Hari kami sampai di Bromo sekitar jam 02.00am
sesampainya di bromo kami menuju pusat informasi untuk bertanya bagai mana caranya menunju ke Puncak pananjakan bromo, karena kami sudah tidak sabar menunggu matahari terbit (sanrise). tapi ternyata kami tidak bisa langsung masuk begitu saja karena harus sewa hardtop untuk menuju pauncak pananjakan bromo.
sambil menunggu dari pihak pengelola wisata (katanya) kami ngopi di salah satu warung dekat pintu masuk

eh.... entah dosa apa kami, lama menunggu ternyata yang di tunggu tak kunjung datang alasannya dari pihak yang mengngaku pengelola wisata Hardtop yang kami pesan sudah habis jadi kami harus naik ke puncak pananjakan dengan mobil kami sendiri tapi dengan membayar biaya paguyuban 150Ribu di dalam hati agak sebal juga kami, sudah memesan dan kehabisan bukan salah kami kan? tapi masih di suruh bayar untuk bisa masuk dan tetap membayar sewa Hardtop. dan akhirnya Menku kami (Mas Yuri namanya) cepat ambil keputusan untuk tetap membayar dan agar kami bisa segera cari tempat untuk melihat dan mengabadikan sunrise di Bromo.

jam 03.00am kami sudah berada di Puncak Pananjakan Bromo dan Alhamdulillah mendapat tempat yang sedikit bagus meskipun sedikit terhalang pohon dan di ujung jurang. kami langsung pasang tripot dan menyiapkan Camera kami. walaupun Udara tidak bersahabat karena dinginnya yang teramat sangat dan sampai membuat jari-jari tangan kami sedikit kaku karena dinginnya.

Rokok pun mulai menyalah untuk sedikit menghangatkan tubuh sambil menunggu sang Matahari menyambut pagi. tak lama kami menunggu sang matahari mulai menunjukkan keindahannya pagi itu, dan semakin rame suasana pagi itu di pananjakan.
Please don't use any of my pictures without my written permission






Photo By Mas Imron
Photo by Mas Dwi

sekitar jam 09.00am kami beranjak turun untuk menunggu hardtop yang kami pesan, karena untuk menuju padang savana, bukit teletubbies pasir berbisik dan kawah bromo harus mengunakan Mobil 4WD, medannya yang berat dan berpasir  sangat sulit untuk di laluin mobil biasa. dan akhirnya kami bertemu dengan hardtop yang telah kami pesan tak lama kami langsung pindah mobil dan segera menuju bukit teletubbies, di perjalanan saya sudah ngantuk yang teramat karena belum tidur dari malam saat keberangkatan ke bromo.. dalam hati sih saya pingen tidur di perjalanan menuju bukit teletubbies eh tapi tidak malah tidak bisa tidur dan takut karena teman saya Mas Pras namanya dia yang sudah tidur duluan dari sebelum pindah mobil dan melanjutkan tidurnya saat di hardtop. 2X kepalanya terpentur mobil (hahahahaha) karena jalan yg di lalui hardtop kami selain melewati turunan yang extreme berserta jalan yang berbatuan besar sedikit terganggu dengan pengunjung yang membawa motor dan memaksa motornya untuk melewati jalan itu
 
Photo By Mas Imron


Photo By Mas Dwi

dan Tara.....aaaa akhirnya kami sampai di bukit teletubbies dan tak lama kami menuju ke padang pasir/ lautan pansir. kamera kami mulai kotor dan agak susah untuk zoom out-zoom in karena anginnya kenceng dan pasirnya berhembus menyapu muka kami, lensa dan semuanya seakan mandi pasir hihihihi (sedikit lebay deh kami sat)
Photo By Mas Imron




Photo By Mas Dwi

karena sudah siang dan kami kecapekan akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang dan mencarai mobil kami tadi yang sudah menunggu di pintu luar.

Jam 12.00pm, siang itu kami beranjak menuju mobil kami tapi sekarang perjalanan kami di temani dengan kabut yang tebal dan tanjakan yang extreme. jam 01.00pm kami sampai di tempat parkir mobil kami dan udara dingin mulai terasa menyiksa tubuh kurus saya lagi. segera kami memutuskan untuk pulang dan mencari tempat makan siang...
Photo By Mas Dwi

THE END..... ini ceritaku di bromo :P
Personil kami yang tertangkap camera :
Mas Imron & sang Istri

Kembarannya Mbak Dita (hehe maaf saya tdk tau namanya)

Mas Dwi

Sat & Mas farik

Dari Kiri, saya,Mas Dwi, Mas Pras, & Mas Bambang

Mas farik
Dari Kiri depan : Kembarannya istrinya Mas Yuri, Istrinya mas Imron, Kembarannya istrinya mas yuri lagi. Belakang dari kiri Mas Yuri & sang Istri

Mas Pras